Perjalanan Pedagang asongan

Perjalanan Pedagang keliling

pikul jalan keliling

Di kota-kota besar yang namanya pengemis dan pedagang asongan selalu ada. Di setiap persimpangan yang padat, lampu merah kedua kelompok ini sudah dipastikan berseliweran berebut mencari nafkah. Namun ada dua perbedaan mendasar keduanya, yang pengemis mencoba menarik belas kasihan sedangkan pedagang asongan mencoba berbisnis dengan para komuter. Kalau di Jakarta sekarang ini kedua-dua kelompok ini mulai dibatasi pergerakannya melalui perda yang oleh banyak masyarakat diniai aneh. Masyarakat dilarang memberi sedekah untuk pengemis atau pun belanja kepada pedagang asongan. Jika dilanggar maka semua pihak yang terlibat bakal dikenakan sangsi. Jakarta memang semakin tidak ramah.

Sebuah hal yang remeh-temeh nan sederhana, tapi mampu membuat kita untuk dapat mencoba merenungan hidup yang mendalam. Diawali dari pengamatan dan keheranan melihat pedangang asongan yang memanggul apa saja untuk dijajakan berkeliling kampung.

Mulai dari pedagang kompor minyak, pedagang mainan anak, pedagang baso, pedagang perabotan rumah tangga, dan pedagang asongan apa saja yang sering kita lihat. Namun yang paling menarik perhatian adalah pedagang yang mengasong barang-barang yang berat dan besar. Jika dihitung-hitung dengan logika biasa saja, agaknya tak masuk akal. Pedagang asongan mana saja yang masuk kategori ini?

Coba, kita perhatikan pengasong POT BUNGA, masa pot bunga yang beratnya saja bisa mencapai puluhan kilogram itu, diasong kesana-kemari keluar masuk kampung, atau keluar masuk komplek perumahan. Ini sesuatu yang irrasional tapi nyata, karena mereka tetap saja ada dan exist. Lebih-lebih lagi kalau kita perhatikan pedagang yang mengasong daun pintu,padahal mana ada orang yang beli daun pintu terpisah dengan kusen-nya? Atau pengasong almari. Aduh…ampunn, itu lemari dan itu kursi dibawa-bawa kesana kemari, apa nggak capek? Kemudian bagaimana analisa bisnisnya?

Belum lagi kalau kita gali lebih dalam, sehari bisa laku berapa almari? Atau pertanyaanya dibalik, “ Untuk menjual sebuah Almari butuh berapa hari keluar masuk kampung?” , dan butuh berapakilometer berjalan agar laku? Semuanya merupakan teka-teki dan misteri hidup. Karena pengasong yang lewat di depan rumah pada bulan lalu, belum tentu lewat lagi bulan ini. Ini yang membuatnya sulit dianalisa.

Kemudian dalam perenungan, saya berfikir, mengapa mereka tidak membuat brosur saja, kemudian membagikanya, kan enteng tidak perlu membawa beban berat begitu. Atau membuatDisplay di suatu tempat sebagai distribution point untuk produknya? Saya bisa pastikan jika pertanyaan ini kita lemparkan pada pelaku atau pengasong, mereka akan jawab, “Modalnya nggak ada.” Ya sudah, macet deh kalau begini, kecuali kita punya resources keuangan, dapat membantu mereka.

Yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah kepada siapa “transaksi” yang lebih baik kita lakukan antara kedua kelompok ini. Seorang pengemis mendapatkan sedekah 1000 rupiah maka duit ini murni masuk kantongnya alias 100% profit. Tidak dipotong pajak, tidak ada modal (kecuali bagi yang menyewa anak bayi) dan tidak ada resiko rugi. Tapi coba lihat pedagang koran. Jika seorang pedagang koran mendapat 1000 rupiah dari menjual satu eks koran maka paling-paling ia mendapat untung 200 rupiah setelah dipotong modal. Ini pun disertai resiko barang rusak seandainya hujan, ataupun barang tidak laku. Benar-benar perjuangan yang keras untuk mendapatkan penghasilan yang layak.

Nah, bagaimana sebaiknya? Setelah dipiker-pikir tentang “ketidakadilan” ini mengambil kesimpulan sebaiknya “transaksi” pada pedagang asongan. Hal ini seandainya kita dihadapkan pada dua pilihan alias duit pas-pasan, apakah mau beramal ataupun membeli barang. Kita bisa membantu perekonomian banyak pedagang asongan. Daripada pada memberikan kepada pengemis yang sama sekali tidak berpengaruh pada perekonomian. Jikapun ingin beramal maka sebaiknya langsung berikan kepada lembaga-lembaga yang profesional yang menangani masalah kemiskinan seperti dompet dhuafa, lembaga zakat, mesjid atau gereja. Ini lebih banyak manfaatnya

*****************

Yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah kepada siapa “transaksi” yang lebih baik kita lakukan antara kedua kelompok ini. Seorang pengemis mendapatkan sedekah 1000 rupiah maka duit ini murni masuk kantongnya alias 100% profit. Tidak dipotong pajak, tidak ada modal (kecuali bagi yang menyewa anak bayi) dan tidak ada resiko rugi. Tapi coba lihat pedagang koran. Jika seorang pedagang koran mendapat 1000 rupiah dari menjual satu eks koran maka paling-paling ia mendapat untung 200 rupiah setelah dipotong modal. Ini pun disertai resiko barang rusak seandainya hujan, ataupun barang tidak laku. Benar-benar perjuangan yang keras untuk mendapatkan penghasilan yang layak.

Nah, bagaimana sebaiknya? Setelah dipiker-pikir tentang “ketidakadilan” ini mengambil kesimpulan sebaiknya “transaksi” pada pedagang asongan. Hal ini seandainya kita dihadapkan pada dua pilihan alias duit pas-pasan, apakah mau beramal ataupun membeli barang. Kita bisa membantu perekonomian banyak pedagang asongan. Daripada pada memberikan kepada pengemis yang sama sekali tidak berpengaruh pada perekonomian. Jikapun ingin beramal maka sebaiknya langsung berikan kepada lembaga-lembaga yang profesional yang menangani masalah kemiskinan seperti dompet dhuafa, lembaga zakat, mesjid atau gereja. Ini lebih banyak manfaatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s